:: Gaya Berpacaran Orang Jepang ::

Standar

“Kimi ga daisuki ~~” kalau kita membaca manga atau menonton anime romance biasanya inilah yang sering terlintas di telinga kita. Namun pada kenyataannya apakah benar cara berpacaran remaja Jepang seperti yang terlukiskan di manga atau anime? Setelah diselidiki ternyata budaya berpacaran ala Jepang memiliki cara yang unik dibandingkan dengan negara negara lainnya ~~


Dalam berpacaran di Jepang terdapat suatu istilah yang disebut Kokuhaku (告白) atau dikenal dengan istilah “Confession” dalam bahasa Inggris. Suatu tindakan di mana sang Pemuda/gadis akan mengutarakan rasa suka mereka kepada pasangan lawan jenis yang mereka sukai. Biasanya untuk para lelaki, mereka akan mengajak gadis yang disukainya untuk berjalan jalan bersama teman temannya yang lain. Nah, dalam perjalanan pulang, di sinilah biasanya si Pemuda akan melakukan Kokuhaku tersebut kepada gadis yang disukainya.


Pasangan di Jepang juga tidak pernah mengatakan “cinta” melainkan “suka” ke pasangannya. Kata Aishiteru yang berarti “I Love you” tidak digunakan ketika kedua remaja masih dalam jenjang pacaran. Dalam masa ini mereka lebih suka mengatakan Daisuki yang artinya bisa disamakan dengan “I Like you” ketika mereka ingin mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap pasangan. Aishiteru hanya akan diungkapakan sang pemuda kepada gadis jika mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Alasan lain menggunakan kata Daisuki juga karena Remaja Jepang lebih suka menunjukkan rasa sayang mereka dengan perbuatan, perlakuan dan perhatian mereka terhadap pasangan mereka dibandingkan menggunakan kata kata. Oleh sebab itu mereka lebih memilih menggunakan kata Kimi ga daisuki atau Suki deshita dibandingkan Aishiteru, sebab orang Jepang cenderung mengartikan kata “ai” pada aishiteru dengan kata “sayang” bukan kata “cinta”.

Tradisi antar jemput juga bukanlah hal yang umum di kalangan remaja Jepang. Dikarenakan sebagian besar penduduk Jepang menggunakan kereta sebagai sarana transportasi mereka, ketika mereka berjanji untuk bertemu, biasanya mereka akan lebih sering untuk bertemu di stasiun. Mereka tidak akan menjemput ke rumah pasangan mereka. Begitu pula ketika mereka selesai berkencan, apabila rumah mereka tidak berada di daerah yang sama, sang pemuda tidak akan mengantarkan pasangannya pulang melainkan mereka akan berpisah di stasiun. Untuk lebih romantisnya lagi, biasanya ketika mereka sudah sampai di rumah masing – masing, sang pemuda akan menelepon kekasihnya untuk memastikan apakah mereka sudah sampai rumah dengan selamat.

Budaya lain yang unik di kalangan Jepang adalah tidak adanya istilah “mentraktir” dalam masa pacaran mereka. Walaupun diajak oleh sang pasangan ke sebuah tempat makan seperti Cafe atau restoran, namun bukan berarti mereka akan mentraktir pasangannya. Biasanya keduanya akan membayar jatah makanan mereka masing-masing. Kalaupun pada akhirnya bisa salah satu dari mereka mentraktir, maka lawan yang ditraktir harus membalas traktir pada kencan mereka berikutnya.

Satu budaya unik lainnya dalam hal berpacaran di kalangan remaja Jepang adalah mereka tidak akan mengenalkan pasangan ke orang tua mereka kecuali kedua kekasih serius memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s